• MAKALAH: KETERAMPILAN PENGELOLAAN KELAS

    0
    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah–Nya, sehingga memberikan kekuatan dan menumbuhkan motivasi penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Kemudian penulis mengirimkan salam dan salawat kepada Muhammad SAW yang telah mengubah pandangan masyarakat dalam menjejaki jalan kehidupan yang lebih baik sehingga tercipta pola pikir dan tingkah laku yang bersahaja.
    Akhirnya, penyusun menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penyusun makalah ini. Penulis juga mengakui bahwa penyusunan makalah ini sebenarnya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk memaksimalkan pembuatan makalah berikutnya.



    Makassar,     November 2015


                          Penyusun



    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR ................................................................................. i
    DAFTAR ISI   ............................................................................................... ii
    BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1       
    1.1  Latar Belakang                                                                                      1
    1.2  Rumusan Masalah................................................................................ 2       
    1.3  Tujuan Penulisan.................................................................................. 2       
    BAB II PEMBAHASAN                                                               ................. 3
    2.1  Pengertian Pengelolaan Kelas   ........................................................... 3
    2.2  Tujuan Penggunaan Pengelolaan Kelas                                                4
    2.3  Macam-macam Pengelolaan Kelas                                                        5
    2.4  Jenis Pendekatan Pengelolaan Kelas  .................................................. 6
    2.5  Komponen Pengelolaan Kelas  ........................................................... 6
    2.6  Prinsip Pengelolaan Kelas                                                                    11
    BAB III PENUTUP .................................................................................... 13

    DAFTAR PUSTAKA  ................................................................................ 14

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1  Latar Belakang
    Sekolah adalah tempat belajar bagi siswa, dan tugas guru adalah sebagian besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan siswa dengan menyelidiki kondisi belajar yang optimal dapat dicapai jika guru mampu mengatur peserta didik dan sasaran pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengaturan yang berkaitan dengan penyampaian pesan penngajaran (instruksional) atau dapat pula berkaitan dengan penyediaan kondisi belajar (pengelolaan kelas). Bila pengaturan kondisi dapat dikerjakan secara optimal, maka proses belajar berlangsung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dapat disediakan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap belajar mengajar.
    Kondisi belajar yang optimal dicapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikanya dalam situasi yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pelajaran. Akan tetapi apabila terdapat kekurang serasian antara tugas, dan sarana atau alat atau terputusnya keinginan dengan keinginan yang lain, antara kebutuhan dan pemenuhanya maka akan terjadi gangguan terhadap proses belajar mengajar. Baik gangguan sifat sementara maupun sifat yang serius atau terus menerus. Gangguan dapat berifat sementara sehinngga perlu dikembalikan ke dalam iklim belajar yang serasi (kemampuan kedisiplinan), akan tetapi gangguan dapat pula bersifat cukup serius dan terus menerus sehingga diperlukan kemampuan meremedial. Disiplin itu sebenarnya merupakan akibat dari pengelolaan kelas yang efektif. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai bila guru mampu mengatur siswa dan saran pembelajaran serta megendalikannya dalam suasana yang sangat menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hubungan interprsonal yang baik antara guru dan peserta didik, peserta didik sama peserta didik merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
    Baca juga: MAKALAH: KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

    1.2  Rumusan Masalah
    Adapun permasalahan yang melatarbelakangi pembuatan masalah ini adalah sebagai berikut:
    1.  Apakah pengertian dari keterampilan mengelola kelas?
    2. Apakah tujuan dari keterampilan mengelola kelas?
    3. Apa saja macam-macam pengelolaan kelas?
    4. Apa saja jenis pendekatan pengelolaan kelas?
    5. Apa saja komponen-komponen keterampilan mengelola kelas?
    6. Apa sajakah prinsip keterampilan mengelola kelas?
    1.3  Tujuan
    Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
    1. Mengetahui pengertian keterampilan pengelolaan kelas.
    2. Mengetahui tujuan keterampilan pengelolaan kelas.
    3. Mengetahui macam-macam pengelolaan kelas.
    4. Mengetahui jenis pendekatan pengelolaan kelas.
    5. Mengetahui komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas.
    6. Mengetahui prinsip keterampilan pengelolaan kelas.

    BAB II
    PEMBAHASAN
    2.1  Pengertian Pengelolaan Kelas
    Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (authority approach), pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifikasi tingkah laku. Berikut dijelaskan pengertian masing-masing pendekatan tersebut.
    Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter (authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat (weber).
    Kedua, pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
    Ketiga, pendekatan modifikasi tingkah laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan proses perubahan tingkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mengembangkan dan memfasilitasi perubahan prilaku yang bersifat positif dari siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki prilaku negative yang dilakukan oleh siswa.
    Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan megembalikan ke kondisi optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remedial.
    2.2  Tujuan Penggunaan Pengelolaan Kelas
    Penggunaan komponen keterampilan mengelola kelas mempunyait ujuan, baik untuk siswa maupun untuk guru.Tujuan-tujuan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
    ·         Tujuan untuk siswa
    Keterampilan mengelola kelas untuk siswa bermaksud:
    a)     Mendorong siswa mengembangkan tanggungjawab individu terhadap tingkah lakunya serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
    b) Membantu siswa mengerti akan arah tingkahlaku yang sesuai dengan tatatertib kelas, dan melihat ata umerasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan.
    c)      Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas. 

    ·         Tujuanuntuk guru:
    Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam:
    a)      Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah pelajaran secara tepat dan baik.
    b) Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya di dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa
    c)    Memberikan respon secara efektif terhadap tingkahlaku yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinans trategi yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkahlaku siswa yang berlebih-lebihan atau terus menerus melawan di kelas.
    2.3  Macam-macam Pengelolaan Kelas
    a.       Masalah Individual
    Masalah individual adalah didasarkan asumsi bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan untuk diterima kelompok dan kebutuhan mencapai harga diri.
    Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel (Raka Joni, 1980: 2) membedakan empat kelompok masalah pengelolaan kelas individual, yakni: (1) Attention getting behaviors, seperti, membadut di kelas (aktif), berbuat lamban sehingga perlu pertolongan ekstra (pasif), (2) power seeking behavior, seperti selalu mendebat, emosional, menangis (aktif), selalu lupa aturan-aturan di kelas (pasif), (3) revenge – seeking behavior dengan menyakiti orang lain, seperti mengata-ngatai, memukul, menggigit, (4) peragaan ketidakmampuan.
    b.      Masalah Kelompok
    Lois V. Johns dan Mary A. Bany (Raka Joni, 1980: 3) mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yakni :
    1)      Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial, ekonomi, dsb.
    2)      Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya seperti sengaja berbicara keras-keras di ruang perpustakaan.
    3)      Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
    4)      Memprakarsai anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, seperti pemberian semangat kepada badut kelas.
    5)      Kelompok cenderung mudah dilatihkan perhatiannya dari tugas yang telah digarap.
    6)      Semangat rendah atau semacam aksi protes kepada guru karena menggap tugas yang diberikan kurang wajar.
    7)      Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, seperti gangguan jadwal, pergantian guru kelas.
    2.4  Jenis Pendekatan Pengelolaan Kelas
    a.       Pendekatan Behavior Modification, dipilih bila tujuan tindakan pengelolaan yang dilakukan adalah menguatkan tingkah laku siswa yang baik dan/atau menghilangkan tingkah laku siswa yang kurang baik. Pendekatan ini mengandung asumsi bahwa: (1) Semua tingkah laku yang baik maupun kurang baik merupakan hasil proses belajar. (2) Ada sejumlah kecil proses psikologi yang fundamental yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud, seperti : penguatan positif, hukuman, penghapusan, dan penguatan negatif.
    b.      Pendekatan Socioemotional Climate, dipergunakan apabila sasaran tindakan pengelolaan adalah peningkatan hubungan interpersonal guru-siswa dan siswa-siswa. Pendekatan ini diasumsikan bahwa: (1) Proses belajar-mengajar yang efektif mempersyaratkan iklim sosioemosional, (2) Guru menduduki posisi terpenting bagi terbentuknya iklim sosioemosional.
    c.       Pendekatan Group-Process, dianut oleh guru bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa:
    1)      Pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks kelompok kelas,
    2)      Tugas guru yang terutama dalam membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif.
    d.      Pendekatan ekletik maka seorang guru seyogyanya: (1) menguasai ketiga pendekatan di atas, (2) dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan masalah pengelolaan kelas.
    2.5  Komponen Pengelolaan Kelas
    Keterampilan mengelola kelas dibedakan menjadi dua komponen, yaitu :
    ·         Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
    1.      Menunjukkan Sikap Tanggap
    Menggambarkan tingkah laku guru yang tampak pada siswa, bahwa guru sadar dan tanggap terhadap perhatian keterlibatan, masalah dan ketidak acuan mereka. Dengan adanya sikap ini siswa merasa guru hadir ditengah mereka. Kesan ketanggapan ini dapatditunjukkandengan berbagaicara sepertiberikut.
    a.       Memandang Secara Saksama
    Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan siswa dalam kontak pandangan serta interaksi antarpribadi yang dapat ditampakkan dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama, dan menunjukkan rasa persahabatan. Memungkinkan guru meliput keterlibatan siswa dalam tugas di kelas serta menunjukkan kesiapan guru untuk memberi respon baik terhadap kelompok maupun individu.
    b.      Memberikan Pernyataan
    Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan siswa sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lain.  Hal ini terkomunikasi kepada siswa melalui pernyataan guru bahwa ia telah siap untuk memulai kegiatan belajar serta siap memberi respon terhadap kebutuhan siswa. Hal yang harus dihindari adalah menunjukkan dominasi guru dengan pernyataan atau komentar yang mengandung ancaman.
    Contoh : “Saya menunggu sampai kalian diam”.
    c.       Gerak Mendekati
    Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau  individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas siswa. Gerak mendekati hendaklah dilakuan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam, atau member kritikan dan hubungan. Hal ini menunjukkan kesiapan, minat dan perhatian kepada siswa. Hal ini membantu siswa yang menghadapi kesulitan belajar, mengalami frustasi atau sedang marah.
    d.      Memberikan Reaksi Terhadap Gangguan Dan Ketakacuan Siswa
    Apabila ada siswa yang menimbulkan gangguan atau menunjukkan ketakacuhan, guru dapat member reaksi dalam bentuk teguran. Dengan adanya teguran menandakan adanya guru bersama siswa. Teguran harus diberikan pada saat yang tepat serta dialamatkan pada sasaran yang tepat. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.
    2.      Membagi Perhatian
    Pengelolaan kelas yang efektif terjadi apabila guru membagi perhatian kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
    a.       Visual
    Hal ini mennjukkan perhatian terhadap sekelompok siswa atau individu namun tidak kehilangan keterlibatannya dengan kelompok siswa atau individu.
    Keterampilan ini digunakan untuk memonitor kegiatan kelompok atau individu, mengadakan koreksi kegiatan siswa, memberi komentar atau memberi reaksi terhadap siswa yang mengganggu.
    b.      Verbal
    Guru dapat memberikan komentar, penjelasan, pernyataan, dan sebagainya terhadap aktivitas seorang siswa sementara ia memimpin kegiatan siswa yang lain.Penggunaan teknik visual maupun verbal menunjukkan bahwa guru menguasai kelas.
    3.      Memusatkan Perhatian
    Keterlibatan siswa dalam KBM dapat dipertahankan apabila dari waktu kewaktu guru mampu memusatkan kelompok terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan. Hal ini dapatdilaksanakandengan cara :
    a.       Menyiagakan Siswa
    Menciptakaan suasana yang menarik sebelum guru menyampaikan pertanyaan atau topik pelajarannya. Bertujuan  untuk menghindari penyimpangan perhatian siswa. Misalnya : “ coba anak-anak, semuanya memperhatikan dengan teliti gambar ini untuk membedakan daerah mana yang subur dan daerah mana yang tanahnya gersang.

    b.      Menuntut Tanggung Jawab Siswa
    Hal ini berhubungan dengan cara guru memegang teguh kewajiban dan tanggung jawab yang dilakukan oleh siswa serta keterlibatan siswa dalam tugas-tugas. Misalnya dengan meminta kepada siswa untuk memperagakan, melaporkan, dan memberi respons. Komunikasi yang jelas dari guru mengenai tugas siswa merupakan hal yang sangat penting dalam mempertahankan pusat perhatian siswa.
    4.      Memberikan Petunjuk yang Jelas
    Hal ini berhubungan dengan cara guru dalam memberikan petunjuk agar jelas dan singkat dalam pelajaran sehingga tidak terjadi kebingungan dari pada siswa. Petunjuk yang diberikan harus bersifat langsung, dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan serta dengan tuntutan yang wajar dapat dipenuhi oleh siswa.
    5.      Menegur
    Apabila terjadi tingkah laku siswa yang menggangu kelas atau kelompok dalaam kelas, hendaklah guru menegurnya secara verbal. Teguran verbal yang efektif ialah yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
    a.       Tegas dan jelas tertuju kepada siswa yang mengganggu serta pada tingkah lakunya yang menyimpang.
    b.      Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung penghinaan.
    c.       Menghindari ocehan atau ejekan guru atau yang berkepanjangan.
    d.      Guru dan siswa lebih baik mengadakan kesepakatan sehingga penyimpangan yang terjadi hanya sifatnya mengingatkan.
    6.      Memberi Penguatan
    Komponen ini digunakan untuk mengatasi siswa yang tidak mau terlibat dalam kegiatan pembelajaran atau menggangu temanya. Yaitu dengan cara.
    a.       Guru dapat memberikan penguatan kepada siswa yang menggagu yaitu dengan jalan ”menangkapnya” ketika ia melakukan tingkhlaku yang wajar dan berusaha “ menangkapnya” ketika ia melakukan tingkah yang tidak wajar dan berusaha “ menangkapnya” ketika ia melakukan tindakan yang tidak wajar dengan tujuan perbuatan yang wajar tadi dapat terulang.
    b.      Guru dapat memberikan berbagai komponen penguatan kepada siswa yang bertingkah laku yang wajar kepada siswa yang lain untuk menjdi teladan.
    ·         Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal
    Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat siswa yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan respon yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepada kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua siswa.
    Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap problema siswa di dalam kelas. Namun, pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku siswa yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas di kelas. Strategi tersebut adalah :
    a.       Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasiakan pemberian penguatan secara sistematis.
    b.      Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara :
    -          Memperlancar tugas-tugas : Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
    -          Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok : Memelihara dan memulihkan semangat siswa dan menangani konflik yang timbul.
    c.       Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.
    2.6  Prinsip Pengelolaan Kelas
    1.      Kehangatan dan Keantusiasan
    Kehangatandankeantusiasan guru dapat memudahkan terciptanya iklim kelas yang menyenangkan yang merupakansalahsatusyaratbagikegiatanbelajar-mengajar yang optimal. Guru yang bersifat hangat dan akrab secara ajek menunjukkan antusiasmenya terhadap tugas-tugas, terhadap kegiatan-kegiatan, atau terhadap siswanya akan lebih mudah pula melaksanakan komponen keterampilan tersebut secara berhasil.
    2.      Tantangan
    Penggunaan kata-kata, tindakan, atau bahan yang menantang akan meninkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya tingkah yang menyimpang. Perhatian dan minat siswa akan terpelihara dengan kegiatan guru tersebut.
    3.      Bervariasi
    Pengunaan variasi dalam media, gaya, dan interaksi mengajar-belajar merupakan kunci pengelolaan kelas untuk menghindari kejenuhan serta pengulangan-pengulangan aktivitas yang menyebabkan menurunnya kegiatan belajar dan tingkah laku positif siswa. Jika terdapat berbagai variasi maka proses menjadi jenuh akan berkurang dan siswa akan cenderung meningkatkan keterlibatannya dalam tugas dan tidak akan mengganggu kawannya.
    4.      Keluwesan
    Dalam proses belajar mengajar guru harus waspada mengamati jalannya proses kegiatan tersebut. Termasuk kemungkinan munculnya gangguan siswa. Sehingga diperlukan keluwesan tingkah laku guru untuk dapat merubah berbagai strategi mengajar dengan memanipulasi berbagai komponen keterampilan yang lain.
    5.      Penekanan Pada Hal-Hal Positif
    Pada dasarnya didalam mengajar dan mendidik guru harus menekankan kepada hal-hal yang positif dan sedapat mungkin menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal-hal yang negatif.
    Cara guru memelihara suasana yang positif antara lain :
    a.       Memberikan aksentuasi terhadap tingkah laku siswa yang positif dan menghindari ocehan atau celaan atau tingkah laku yang kurang wajar.
    b.      Memberikan penguatan terhadap tingkah laku siswa yang positif.
    6.      Penanaman disiplin diri
    Kegiatan ini merupakan tujuan akhir pengelolaan kelas. Untuk mencapainya guru harus selalu mendorong siswa untuk melaksanakan disiplin diri sendiri. Hal ini akan lebih berhasil jika guru sendiri yang menjadi contoh.
    Baca juga: MAKALAH: KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


    BAB III
    PENUTUP
    Simpulan
    Dari pembahasan di atas dapat diperoleh simpulan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan keterampilan mengelola kelas, antara lain:
    1. Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal.
    2.      Pengelolaan kelas terdiri dari dua macam, yaitu
    ·         Masalah Individual
    ·         Masalah Kelompok.
    3.      Jenis pendekatan pengelolaan kelas terdiri atas:
    a.       Pendekatan Behavior Modification.
    b.      Pendekatan Socioemotional Climate
    c.       Pendekatan Group-Process:
    d.      Pendekatan ekletik
    4.      Keterampilan mengelola kelas dibedakan menjadi dua komponen, yaitu:
    ·         Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif).
    ·         Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal.
    5.      Prinsip mengelola kelas terdiri dari :
    ·         Kehangatan dan Keantusiasan
    ·         Tantangan 
    ·         Bervariasi
    ·         Keluwesan
    ·         Penekanan Pada Hal-Hal Positif
    ·         Penanaman disiplin diri

    DAFTAR PUSTAKA
    Djumingin, Sulastri. 2011. Strategi dan Aplikasi Model Pembelajaran Inovatif Bahasa dan Sastra. Makassar: Badan Penerbit UNM.
  • MAKALAH: KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

    0
    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah–Nya, sehingga memberikan kekuatan dan menumbuhkan motivasi penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Kemudian penulis mengirimkan salam dan salawat kepada Muhammad SAW yang telah mengubah pandangan masyarakat dalam menjejaki jalan kehidupan yang lebih baik sehingga tercipta pola pikir dan tingkah laku yang bersahaja.
    Akhirnya, penyusun menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penyusun makalah ini. Penulis juga mengakui bahwa penyusunan makalah ini sebenarnya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk memaksimalkan pembuatan makalah berikutnya.



    Makassar,  Desember 2015
      

                               Penyusun


    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR ................................................................................. i
    DAFTAR ISI   ............................................................................................... ii
    BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1       
    1.1  Latar Belakang                                                                                      1
    1.2  Rumusan Masalah................................................................................ 1       
    1.3  Tujuan Penulisan.................................................................................. 2       
    BAB II PEMBAHASAN                                                             ................. 3
    2.1  Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)................................... 3       
    2.2  Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ............................... 4       
    2.3  Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)............ 6       
    2.3.1   Kelebihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).............................. 6       
    2.3.2   Kekurangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).......................... 6       
    BAB III PENUTUP ..................................................................................... 7
    DAFTAR PUSTAKA  ................................................................................. 8

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1  Latar Belakang
    Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, berkembang sebagai suatu penelitian terapan.
    PTK sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik (guru dan dosen) untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas atau di ruang kuliah. Dengan melaksanakan tahapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) guru dan dosen dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan  secara kreatif.
    Masalah proses pembelajaran di kelas atau di ruang kuliah dapat dicari solusi atau jalan keluar melalui Penelitian Tindakan Kelas sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran, sehingga proses pembelajaran di kelas kreatif, inovatif dan hasil belajar dapat diwujudkan secara ilmiah yaitu, rasional, sistematis dan empiris.
    Agar Penelitian Tindakan Kelas dapat dilaksanakan dengan baik, tentu saja kita perlu menyamakan persepsi apa saja karakteristik, prinsip-prinsip serta kelebihan dan kekurangan yang dimiliki PTK karena penelitian tindakan kelas ini memiliki karakteristik yang relative agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian eksperimen, survey, analisis isi dan sebagainya.

    1.2  Rumusan Masalah
    Adapun permasalahan yang melatarbelakangi pembuatan masalah ini adalah sebagai berikut:
    1.      Apa saja karakteristik yang dimiliki Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
    2.      Apa saja prinsip-prinsip yang dimiliki Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?
    3.      Apa saja kelebihan dan kekurangan yang dimiliki Penelitian Tindakan Kelas (PTK)?

    1.3  Tujuan
    Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
    1.      Mengetahui karakteristik dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
    2.      Mengetahui prinsip-prinsip yang dimiliki Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
    3.      Mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki Penelitian Tindakan Kelas (PTK).


    BAB II
    PEMBAHASAN
    2.1  Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
    Sebagai paradigma sebuah penelitian tersendiri, jenis penelitian tindakan kelas (PTK) memiliki karakteristik yang relative agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian eksperimen, survey, analisis isi dan sebagainya. Adapun karakteristik PTK sebagai berikut :
    1.       On-the job problem oriented (masalah yang diteliti adalah masalah real atau nyata dari dunia kerja peneliti atau yang ada dalam kewenangan atau tanggung jawab peneliti).
    2.      Problem solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah).
    3.      Improvemen oriented (berorioentasi pada peningkatan mutu). PTK dilaksanakan dalam rangka untuk memperbaiki mutu  atau meningkatkan mutu proses pembelajaran.
    4.       Ciclic (siklus). Konsep tindakan (action) dalam PTK diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (cyclical). Siklus dalam PTK terdiri dari empat tahapan, yakni Perencanaan tindakan, Melakukan tindakan, Pengematan atau observasi dan Analisis atau Refleksi.
    5.      Action oriented. Dalam PTK selalu didasarkan pada adanya tindakan  (treatmen) tertentu untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas.
    6.      Pengkajian terhadap dampak tindakan. Dampak tindakan yang dilakukan harus dikaji apakah sesuai dengan tujuan, apakah memberikan dampak positif lain yang tidak diduga sebelumya, atau bahkan menimbulkan dampak negative yang merugikan peserta didik.
    7.      Specificscontextual. Aktifitas PTK dipicu oleh permasalahan praktis yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas.
    8.      Partisipatory (colaborative). PTK dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra dengan pihak laih seperti teman sejawat.
    9.      Masalah yang dikaji dalam PTK adalah masalah yang bersifat praktis. PTK berangkat dari keresahan yang dialami guru dalam pengelolaan proses pembelajaran. Oleh karena itu, dari mulai proses perencanaan, pelaksanaan tindakan sampai pada proses penyimpulan guru merupakan pemeran utama. Karena alasan yang demikian PTK juga sering dinamakan penelitian, artinya penelitian yang berangkat dari hal-hal nyata yang dirasakan oleh setiap guru.
    10.  Focus utama penelitian adalah pembelajaran.
    11.  Tanggung jawab pelaksanaan dan hasil PTK ada pada guru sebagai praktisi.
    12.  PTK dilaksanakan sesuai dengan program pembelajaran yang sedang berjalan, artinya pelaksanaan PTK tidak diatur secara khusus untuk kepentingan penelitian semata.
    13.  PTK selalu berangkat dari kesadaran kritis guru terhadap persoalan yang terjadi ketika praktik dan proses pembelajaran berlangsung, dan guru menyadari pentingnya untuk mencari pemecahan masalah melalui suatu tindakan atau aksi yang direncanakan dan dilakukan secermat mungkin dengan cara-cara ilmiah dan sistematis.

    2.2  Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
    Prinsip-Prinsip Penilaian Tindakan Kelas “Prinsip adalah suatu pegangan. Dan salah satu fungsi pegangan adalah untuk pedoman”. (Suyadi, 2012:29) Dalam melakukan suatu penelitian terutama dalam penelitian tindakan kelas (PTK) seorang peneliti memerlukan sebuah informasi yang benar kejelasannya, tidak boleh bersifat dugaan atau bahkan menduga-duga tapi seorang peneliti harus terjun langsung kelapangan untuk meneliti suatu masalah yang dialami oleh sekolah atau lembaga tertentu untuk mengetahui masalah atau kendala apa yang sedang mereka hadapi kemudian kita mencarikan solusi yang tepat dari masalah yang dialaminya. Selain dari pada ini peneliti juga harus memahami dan menerapkan apa yang dilakukan dapat berhasil dengan baik dengan memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip atau pedoman yang harus dipenuhi. 
    Secara umum prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)tersebut adalah:
    1.      Tidak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar;
    2.      Metode pengumpulan data tidak menuntut waktu yang berlebihan;
    3.      Metodologi yang digunakan harus reliable sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan;
    4.      Masalah berawal dari kondisi nyata di kelas yang dihadapi guru;
    5.      Dalam penyelenggaraan penelitian, guru harus memperhatikan etika profesionalitas guru;
    6.      Meskipun yang dilakukan adalah di kelas, tetapi harus dilihat dalam konteks sekolah secara menyeluruh;
    7.      Tidak mengenal populasi dan sampel;
    8.      Tidak mengenal kelompok eksperimen dan control;
    9.      Tidak untuk digeneralisasikan.
    Ada beberapa prinsip dasar yang melandasi PTK. Menurut Hopkins (1993) prinsip yang dimaksud antara lain: 
    1.               Tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang utama adalah menyelenggrakan pembelajaran yang baik dan berkualitas.
    2.               Meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data.
    3.               Kegiatan peneliti yang merupakan bagian integral dari pembelajaran harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah.
    4.               Masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil merisaukan tanggung jawab professional dan komitmen terhadap diagnosis maslah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya.
    5.               Konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajarn sangat diperlukan.
    6.               Cakupan permaslahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada maslah pembelajaran di kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar kelas.
    2.3  Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
    Peneltian tindakan kelas atau disingkat PTK memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan PTK ini sebaiknya dipahami oleh guru dan mahasiswa pendidikan (peneliti) agar hasil penelitiannya bisa tepat sasaran dan berjalan dengan optimal. Berikut pembahasan kami tentang kelebihan dan kekurangan dari penelitian tindakan kelas.
    2.3.1        Kelebihan Penelitian Tindakan Kelas
    1.      Praktis dan langsung relevan untuk situasi yang aktual.
    2.      Kerangka kerjanya teratur.
    3.      Berdasarkan pada observasi nyata dan objektif.
    4.      Fleksibel dan adaptif.
    5.      Dapat digunakan untuk inovasi pembelajaran.
    6.      Dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat kelas.
    7.      Dapat digunakan meningkatkan kepekaan atau profesionalisme guru.
    2.3.2        Kekurangan Penelitian Tindakan Kelas
    1.      Validitasnya masih sering disangsikan.
    2.      Tidak dimungkinkan melakukan generalisasi karena sampel sangat terbatas.
    3.      Peran guru yang ‘one man show’ bertindak sebagai pengajar dan sekaligus peneliti sering membuat dirinya menjadi sangat repot.

    BAB III
    PENUTUP

    Simpulan
    Dari pembahasan di atas dapat diperoleh simpulan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Kelas, antara lain:
    Penelitian tindakan kelas (PTK) memiliki karakteristik yang relative agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain. Secara umum Penelitian Tindakan Kelas memiliki beberapa prinsip salah satunya adalah Tidak mengganggu komitmen guru sebagai pengajar. Di samping itu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) juga memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan yang telas di paparkan dalam makalah. 
  • 5 Mitos Hantu Unik Di Dunia

    0
    Setiap negara memiliki kisah hantu yang kerap diceritakan turun-temurun. Legenda urban tersebut terus berkembang dan meluas hingga menjadi mitos setempat bahkan tak jarang dikenal di dunia manca negara.
          Tak jarang kisah tentang hantu terdengar aneh dan terkesan unik, jauh dari anggapan menyeramkan yang membuat Anda ketakutan. Coba simak lima mitos hantu unik berikut.
    1.       Shirime
    Shirime adalah makhluk supranatural asal negara sakura, Jepang. Shirime memiliki keunikan tersendiri karena memiliki satu mata yang terletak di lubang pantat. Shirime sangat jahil terhadap orang yang mengganggu  wilayahnya, maka dari itu setiap yang dianggap mengganggu wilayahnya akan diberi pertanyaan sambil memperlihatkan mata di pantatnya. Jika orang itu lari ketakutan Shirime akan merasa senang.
    2.       Leshy
    Leshy adalah sosok ghaib yang terkenal dalam masyarakat Slavia. Leshy berwujud perempuan biru yang tinggal di dalam hutan sebagai pelindung. Leshy mahir merubah wujud menjadi apapun termasuk manusia, namun perubahan manusia Leshy dapat dikenali dengan kakinya yang memakai sepatu kanan di kaki kiri dan sepatu kiri di kaki kanan. Leshy memiliki keunikan dengan cara membunuhnya yang menggelitik manusia hingga tewas.
    3.       Saci
    Saci adalah sosok gaib yang dipercaya masyarakan Brazil kerap menipu dan berdiam di dalam hutan. Sosok penampakannya adalah seorang anak kecil berkaki satu dan bertopi merah yang berjalan di sekitar hutan sambil merokok untuk menimbulkan kerusakan. Masyarakat setempat percaya bahwa topi merah Saci bisa mengabulkan berbagai permintaan, namun orang-orang yang berhasil menangkapnya justru menganggap topi Saci mengeluarkan aroma busuk menusuk hidung. 
    4.       Aswang
    Aswang adalah sosok hantu perempuan yang dipercaya masyarakan Filipina suka menggoda dan jahil. Pada siang hari Aswang tidak akan dapat dikenali karena kerap menyamar menjadi manusia, namun pada malam hari Aswang akan berubah menjadi sosok aslinya sebagai makhluk bersayap. Aswang dapat di tolak dengan menyemprotkan minyak kelapa, garam,dan yang paling unik Aswang akan pergi apabila di semprotkan cairan tubuh. 
    5.       Tofu Kuzo
    Tofu Kuzo adalah sosok hantu unik lainnya yang berasal dari Jepang. Tofu Kuzo berwujud bayi raksasa dengan topi bambu yang besar. Tofu Kuzo selalu muncul dengan membawa nampan berisi tahu yang dihiasi daun maple dengan aroma sangat lezat. Namun jangan salah mengartikan karena dibalik aromanya yang menggiurkan, tahu itu berisi racun yang siap mematikan siapapun yang tergoda memakannya.
  • 10 Manusia Superhero Yang Dimiliki Dunia, Salah Satunya Dari Indonesia!

    0
    Superhero identik dengan para manusia yang memiliki kekuatan super, seperti yang selalu kita lihat dalam komik atau di film. Nah, tahukah kamu, jika diantara milyaran manusia di muka bumi ini, ada sejumlah manusia yang lahir dengan kemampuan yang tidak dimiliki manusia normal. Mereka adalah superhero di dunia nyata.
    Dilansir dari Hipwee.com (20/08/2017), ini lah rangkuman 10 manusia super yang dimiliki dunia dan menjadi bukti bahwa superhero tidak hanya ada dalam film, komik, dongeng ataupun legenda.
    1.   Wolverine - Jesus Aceves
    Tidak cuma ada dalam film, Jesus Aceves adalah bukti kalau manusia serigala nyata adanya. Jesus Aceves, pria asal Meksiko yang memiliki rambut tumbuh disekujur tubuhnya, uniknya rambut yang paling lebat tumbuh di area wajah.  Karena itulah Jesus Aceves dijuluki manusia serigala. Jesus Aceves sebenarnya mengidap kelainan langka yang disebut Hipertichosis. Kini Jesus Aceves telah menjadi pemain sirkus profesional di negaranya.
    2. Magneto - Etibar Elchiyev 
    Etibar Elchiyev  warga Georgia lahir dengan kemampuan mengendalikan medan magnet dan memanipulasi logam ataupun besi, layaknya tokoh Magneto dalam film X-Men. Etibar Elchiyev  memecahkan rekornya sendiri dengan menempelkan 53 sendok pada tubuhnya tanpa jatuh pada tahun 2011 silam.
    3. Mr. Fantastic - Daniel Browning Smith
    Bukan hanya Mr. Fantastic yang bisa melenturkan tubuhnya, Daniel Browning Smith juga sama melarnya, dialah versi nyata manusia karet. Daniel Browning Smith pernah memecahkan rekor Guinness sebagai manusia karet pertama di dunia.
    4. Groot - Dede Koswara
    Masih ingat dengan karakter Groot dalam film Guardian of The Galaxy? Groot si manusia pohon ternyata ada di dunia dan dimiliki oleh Indonesia. Adalah Dede Koswara, perempuan dengan tubuh dipenuhi kutil yang keras hingga menyerupai pohon. Karena daya tahan tubuh Dede yang lemah maka dia terserang virus Papillomavirus yang menjadi penyebab tubuhnya dipenuhi kutil.
    5. Manusia Listrik - Ma Xiangang
    Ma Xiangang, manusia ajaib asal Cina yang bisa menyentuh kabel listrik aktif tanpa merasa sakit sedikitpun. Menurut penelitian medis, Xiangang memiliki daya tahan 7-8 kali lebih kuat dari pada manusia nomal yang membuatnya bisa menerima aliran listrik tanpa rasa sakit.
    Manusia Telekinesis - Nina Kulagina
    Nina Kulagina, si manusia ahli telekinesis paling dikenal dunia. Bahkan kemamuannya memindahkan benda menyaingi Jean Grey, salah satu mutan dalam film Fantastic Four. Yang paling menarik perhatian adalah Nina Kulagina mampu memisahkan kuning dan putih telur. Hingga kini fenomena telekinesis masih diperdebatkan karena belum adanya hasil penelitian yang jelas secara sains.
    7.       X-Ray Girl - Natasha Demkina
    Satu lagi manusia yang menyentak dunia datang dari negara Rusia. Natasha Demkina, mempu melihat isi tubuh seseorang dan kini kelebihan yang dimilikinya digunakan untuk mendiagnosa penyakit. Ilmuan dari Ondon dan Jepang telah membuktikan kemampuan Natasha lewat eksperiman yang dijalaninya. Hasilnya, Natasha Demkina benar memiliki mata X-Ray yang bisa mendiagnosa penyakit pada makhluk hidup, baik manusia ataupun hewan hanya dengan melihat fotonya saja.
    8.       Human Torch - Deng Denshu
    Johnny Storm tak cuma ada dalam film Fantastic Four. Dunia nyata memiliki Deng Denshu warga Cina yang diklaim mampu mengeluarkan api dari seluruh tubuhnya. Mengejutkan karena setiap benda yang disentuh atau dekat dengan Deng Denshu bisa terbakar, bahkan bajunya sendiri. Hingga kini, masih belum diketahui penyebab keluarnya api dari tubuh Deng Denshu.
    9.       Manusia es - Wim Hof
    Wim Hof, manusia es asal Belanda yang mampu bertahan dalam udara dingin. Wim Hof pernah dikubur dalam es hingga berenang di dalam air es yang permukaannya beku. Tak sampai di situ, Wim Hof juga pernah mendaki gunung tertinggi Everest hanya dengan sepasang baju kaos dan celana biasa. Para ilmuan menemukan bahwa Wim Hof mampu mengendalikan sistem saraf dan kekebalan tubuhnya hanya dengan konsentrasi dan meditasi.
    10.   Daredevil - Ben Underwood
    Tahu Daredevil? Seorang superhero buta yang dapat mengetahui keberadaan musuh hanya dengan pantulan suara. Di dunia nyata kita memiliki Ben Underwood yang berkemampuan sama dengan Daredevil. Ben buta sejak umur 2 tahun karena kanker retina, sejak itulah Ben mulai melatih kemampuannya dalam menggunakan sonar. Ben bisa bermain skateboard dan bermain basket layaknya orang normal. Namun pada usia 16 tahun, Ben meninggal karena penyakitnya.
  • Copyright © - Hinamori

    Hinamori - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan